Dunia dengan Tata Suryamu Sendiri
-Cibubur, Robbani Islamic School, Senin 17 Mei 2010-
Pada suatu hari, Social Room di Taman Kanak-kanak dan Kelompok Bermain Robbani Islamic School menjadi dunia dengan sistem tata suryanya sendiri. Lampu Over head projector menjadi matahari, anak-anak menjadi penentu siang dan malam. “Ceritanya malem !” seru Azla kecil sambil menghalangi cahaya OHP dengan buku. “Pagi lagi, ayo sekolah !” lonjak Rara sambil menyambar buku yang menghalangi cahaya. Sinar lampu menembak layar putih dan siang menjadi sangat panjang ketika anak-anak asyik bermain dengan bayangan mereka sendiri.
Menjelang workshop “Pemilihan Bacaan Anak Sesuai dengan Usia dan Perkembangan Anak”, permainan itu menjadi metaforik dan kontekstual. Dengan buku sebagai media, anak-anak dapat bermain dan menentukan siang dan malamnya sendiri. “Dari dulu kita diajarkan buku itu sumber ilmu, padahal sebetulnya tidak sekedar itu,” ungkap Ibu Najeela Shihab dari Penerbit Buah Hati, sang pembicara.
Di tengah orangtua dari TK dan KB Robbani Islamic School Ibu Najeela yang akrab dipanggil Bu Ella berbagi mengenai bacaan anak dan berbagai aspeknya. “Kalau anak saya lebih suka komik, bagaimana?” tanya seorang ibu. “Nggak apa-apa, jangan antipati sama komik, Bu,” sahut Bu Ella seraya tersenyum. Menurut Bu Ella, pengalaman membaca harus menyenangkan bagi anak-anak. Itu sebabnya, ia menyarankan anak-anak memilih sendiri bacaannya.
“Dulu anak saya suka membaca. Tapi semenjak dibelikan play station, dia jadi sama sekali tidak tertarik lagi pada buku. Kalau saya bilang ps-nya rusak untuk sementara, boleh atau tidak ?” tanya Bu Ayu. “Menurut Ibu boleh atau tidak ?” Bu Ella balik bertanya. “Kalaui ps-nya kembali, dia tetap tidak tahu apa masalahnya,” lanjut Bu Ella. Mengajak anak melirik kegiatan seru lain selain play station akan lebih menarik. “Misalnya, sekali-sekali aja anak memasak atau bermain kasti,” saran Bu Ella.
Siang menjadi sangat panjang ketika anak-anak bermain dengan bayangan mereka sendiri. Buku tergeletak di sisi OHP. Terlupakan. Namun ketika sudah bosan dengan bayangan yang begitu-begitu saja, Azla kembali ke sisi OHP untuk mengeksplor permainan lain dan … “Aduh ! Silau !” serunya.
Tanpa disuruh siapapun, tangan mungil Azla kembali meraih buku. Menjaga terik …




